Friday, December 11, 2015

Resensi Novel: Pulang (Tere Liye)


Judul Buku : Pulang
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika Penerbit
Tebal : 400 Halaman
Tahun Terbit: September 2015
Harga: Rp 71.500, 00
Toko Buku: Gramedia Pekanbaru
Rating: 4/5



Aku bersiap melakukan pertarungan hebat yang akan dikenang. Hari saat aku menyadari warisan leluhurku yang menakjubkan, bahwa aku tidak lagi mengenal definisi rasa takut.

Don’t judge a book by it’s cover (atau judulnya) kayaknya memang cocok untuk novel satu ini. Alih-alih bernuansa sendu-sendu romantis yang diatmosferkan dari kata Pulang, novel ini justru hadir dengan nuansa petarung yang penuh action dan intrik-intrik politik antar keluarga dunia hitam yang seru dan tragis. Dunia hitam merupakan sebutan bagi shadow economy, yaitu ‘sistem’ ekonomi bawah tanah yang rapi, sistematis, terjalin ke berbagai arah dengan sangat kuat. Mereka mengendalikan sistem yang tampak tanpa pernah terlihat tampak.  Nyaris semua sektor perekonomian di dunia ini dikendalikan oleh mereka yang berada dalam shadow economy.

Dengan mengandalkan ratusan bahkan ribuan tukang jagal sebagai ujung tombak bisnis di shadow economy, berbagai bisnis berkembang sangat pesat sampai-sampai tidak perlu lagi ditanya berapa banyak uang mereka di dunia ini. Jagal disini juga termasuk bagi mereka yang cerdas, namun berjiwa tukang pukul. Siap ‘memukul’ siapapun, sistem seperti apapun, pemerintah era manapun jika sedikit saja mereka terganggu.

“Apa… Apa yang sebenarnya kalian inginkan?”
“Tidak ada.” Aku menggeleng takzim. “Sama sekali tidak ada”
“Aku menemui Anda hanya untuk menyampaikan pesan. Jika anda terpilih menjadi presiden, biarkan semua berjalan seperti biasa. Jangan mengganggu kami, maka kami tidak akan mengganggu pemerintah. Tapi sekali saja pemerintah bertingkah, kami bisa menjatuhkan rezim manapun…”

Adalah Bujang, si tukang jagal nomor satu, yang menjadi tokoh utama dimana dari sudut pandang dia lah alur novel ini mengalir. Seperti biasa, tokoh utama yang diciptakan Tere Liye adalah orang-orang dengan karakter kuat, cerdas, berprinsip teguh, masa depannya gilang gemilang. Namun mereka ini penuh dengan masa lalu yang sangat keras dan menyedihkan. Beberapa diantaranya penuh dendam akan masa lalu. Sebut saja seperti Thomas (Negeri Para Bedebah & Negeri Di Ujung Tanduk), Tania (Daun Yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin), Ray (Rembulan Tenggelam Di Wajahmu), Tegar (Sunset Bersama Rosie), Karang (Moga Bunda Disayang Allah), Dalimunte (bukan tokoh utama sih, dalam Bidadari-Bidadari Surga). Nah satu geng lah si Bujang ini dengan orang-orang tadi. Kuat fisik, cerdas, berprinsip, terdidik dan terpelajar. Dan paling penting: tidak punya rasa takut akan apapun. Sampai suatu hari akibat dari pengkhianatan dari Keluarga Tong sendiri lah yang membuat rasa takutnya kembali.

Jika sudah pernah membaca sekuel Negeri Para Bedebah dan Negeri Di Ujung Tanduk, pressure ceritanya bisa dikatakan mirip. Membacanya seperti membayangkan film action laga di dalam kepala. Adegan perkelahian, penggunaan berbagai macam senjata, kendaraan super canggih, pertemuan-pertemuan antar negara.  Walaupun begitu secara gagasan utama sebagai titik mula darimana alur cerita ini berawal, bisa dikatakan antara Pulang dengan sekuel Negeri Para Bedebah itu justru saling berkebalikan. Sekuel Negeri Para Bedebah menceritakan sistem yang tampak di permukaan, mereka walaupun licik dan penuh siasat, mereka berada di dunia yang rasional dan penuh peraturan yang kaku, sekalipun tetap saja mereka lihai berkelit sana-sini. Sedangkan Pulang, seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, Pulang menceritakan sistem bawah tanah yang tak tergapai oleh sembarang orang, yang tak tampak oleh semua orang. Begitu juga tokoh utamanya. Thomas dan Bujang adalah kebalikan. Bukan secara karakter, namun secara tempat dan cara mereka berprofesi. Konsultan ekonomi dan politik yang handal, dengan tukang jagal nomor satu dalam shadow economy yang tidak tampak.

Ada juga tokoh utama lain seperti Tauke Besar yang membesarkan Bujang dan juga sangat mempercayai Bujang. Kemudian tokoh-tokoh lain yang walaupun bukan tokoh utama namun berperan besar dalam kelangsungan cerita dan tentu saja pada kelangsungan hidup tokoh utama. Sebut saja seperti Kopong, ketua tukang pukul di Keluarga Tong yang sangat menyayangi Bujang, Basyir si Arab salah satu tukang pukul terkuat yang bangga dengan identitasnya sebagai pasukan berkuda suku Bedouin. Parwez, si India pemimpin perusahaan yang halus hatinya, dan juga halus sekali mentalnya. Serta Mamak dan Bapak Bujang yang ternyata memiliki rahasia yang mengiris hati, yang tak pernah Bujang ketahui seumur hidupnya.

“Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati Bapakku dibanding di tubuhnya. Juga mamakku, lebih banyak tangis di hati mamak dibanding di matanya”

Penyajian alur cerita walaupun dengan alur maju-mundur, tetap seru dan cukup efektif memberikan pressure yang menegangkan. Hanya saja dibanding Negeri Para Bedebah (maupun Negeri Di ujung Tanduk), alur cerita Pulang terasa tidak seterdesak dan segenting ‘kakak-kakaknya’. Dua sekuel tersebut selalu berpacu dengan sempitnya waktu, sempitnya ruang gerak, serta berlalu lalang dengan kesempatan-kesempatan yang hilang atau justru kesempatan-kesempatan yang tidak terduga. Sedangkan Pulang, lebih bercerita tentang kegiatan dan keseharian mereka di shadow economy. Tidak terlalu banyak adegan yang berpacu dengan waktu. Tingkat ketegangannya masih sedikit, sekali lagi, sedikit di bawah sekuel sebelumnya. Saya rasa karena di bagian alur mundurnya terasa cukup lama dan panjang—sampai satu bab, setiap kali menceritakan masa lalu—sehingga ketika kembali ke alur maju (masa depan) di bab selanjutnya, pembaca sudah sedikit kehilangan momen menegangkan yang sebelumnya sudah terbangun. Ketegangannya terputus karena menceritakan latar belakang di masa lalu. Tapi itu sedikit saja kok. Overall, novel ini tetap sangat seru, penuh sudut pandang yang tak terduga, dan  tetap bisa memuaskan pembacanya.

Bicara arti Pulang, maka Pulang disini tidak selalu bermaksud untuk kembali pada suatu tempat atau kembali pada seseorang. Namun pulang disini berarti kembali pada sesuatu yang menjadi hakikat, kembali pada sesuatu yang dimana hal tersebut tetap menanti untuk didatangi kembali, sejauh apapun kita sudah berlari. Kembali pada diri sendiri. Saya suka sekali cara Tere Liye memaknai Pulang, memberikan makna yang mungkin belum disadari semua orang.

Akhir kata, saya ingin menutup dengan mengutip salah satu quotes favorit yang diambil dari novel Pulang ini.

“Ketahuilah Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapapun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran…”
Selamat membaca! Selamat Pulang! :)))

2 comments: