Friday, February 27, 2015

Kendali Diri: Passion



Saya baru sekali ini rasanya gamang dengan masa depan. Tidak seperti dulu yang begitu mantap dengan apa yang saya pilih dan saya tetapkan. Saya tahu persis apa yang saya inginkan. Saya tahu persis langkah-langkah yang harus saya lalui dan target apa saja yang ingin saya kerjakan. Semacam peta masa depan sudah saya rancang sebaik mungkin dan tahapannya sudah berhasil satu per satu dilewati.

Tapi sekarang sudah tidak mungkin melaksanakan rencana-rencana besar itu, karena jalan yang dipilihkan untuk saya memang tidak memungkinkan lagi untuk melanjutkan semua rencana. Baiklah, sudahi saja yang terjadi di belakang. Sekarang saatnya saya melihat ke depan dan… astaga masih belum ada apa-apa ternyata. Rencana saya di masa lalu untuk dikerjakan di masa depan tidak berlaku lagi! Saya harus membuat rencana baru. Masalahnya, saya belum tahu apa yang ingin saya kejar dengan jalan yang  mendadak belok seperti ini. Maksud saya  lebih tepatnya, dengan jalan yang diberikan ini, saya belum tahu apa yang saya inginkan. Rasanya seperti tersesat.

Gamang sekali kan kalau sudah begini. Ini karena saya sudah terbiasa berhasil melaksanakan tahapan rencana saya. Tapi sekali lagi, cukup sudahi saja yang terjadi di belakang. Karena saya pun sudah tidak bisa mengingingkannya lagi. Saya sudah berkali-kali membuat rencana dan mental sesiap dan semantap diri saya pada rencana yang dulu. Rencana yang full of passion and struggle. Rencana cita-cita yang menyenangkan untuk dijalani, tidak peduli sesulit atau sesakit atau sejauh apapun karena diperjuangkan sepenuh hati.

Tapi tidak ada yang instan kan?

Saya memaklumi saya butuh proses untuk ini. Bukankah dulu saya juga butuh waktu berthaun-tahun untuk menyeleksi dan memepertimbangkan setiap detail langkah saya. Nah, ketika semuanya hilang dan saya harus membuat ulang dengan konsep yang sangat baru secara tiba-tiba, dengan waktu yang sudah mepet, saya harus maklum dengan keadaan saya yang justru jadi gampang berfluktuasi dibuatnya. Dengan perasaan saya. Dengan pandangan orang. Semuanya harus bisa dimaklumi, karena saya sudah terlalu banyak menyalahkan diri sendiri. Apalagi ini cita-cita, tujuan hidup, tidak boleh sembarangan.

Beberapa orang megatakan pada saya, “Jalani saja dulu. Biarkan mengalir”


Masalahnya, saya tidak bisa membiarkan hidup saya mengalir begitu saja tanpa tahu muaranya kemana. Membiarkan hidup mengalir tanpa tujuan itu benar-benar membuat gamang.

Ini baru ngomongin rencana secara ‘adminitratif’. Belum lagi kalu melibatkan passion dan rasa percaya diri. Sudahlah. Makin rebek masalahnya.

Menyenangkan sekali melihat teman-teman saya bersemnagat melakukan diskusi sehubungan pelajaran kuliahnnya. Mereka sangat merasakan passion mereka. Saya juga ingin punya semangat yang sama, melakukan  diskusi atau apapaun sehubungan belajar di bidang yang sama, sangat bersemangat. Seperti saya yang dulu. Aih rindu sekali rasanya bisa merasakan perasaan seperti itu. Bisa merasakan pahitnya belajar karena saking inginnya memahami pelajaran itu sangat-sangat menyenangkan. Rasanya tak ada yang membuat harga diri lebih naik satu tingkat selain hal itu hahaha.

Ketika teman saya mengajak, “Pe, ada diskusi ini, ayok ikut!” Saya ingin sekali bisa gembira dan langsung semangat mendengar informasi itu. Saya berusaha sekali, karena saya ingin merasakan passion yang sama seperti yang mereka rasakan.

Tapi sejauh apa orang bisa berpura-pura pada dirinya sendiri?

Sekeras apaun saya berusaha untuk gembira, saya tahu sebenarnya saya tidak menginginkan hal-hal seperti itu. Saya tahu saya tidak tertarik. Saya hanya berusaha untuk tertarik karena saya mengetahui sedikit permasalahn di bidang itu dan merasa bisa mengikuti ritmenya. Jika saya gembira, itu karena saya berhasil melawan ketidakinginan saya. Kalau saya bisa melawan ketdakinginan saya, maka saya bisa tetap lanjut terus belajar. Karena belajar itu sifatnya harus, tidak peduli diinginkan atau tidak.

Tapi tidak terhindarkan juga saat melihat mereka semangat dan expert sekali dengan yang mereka diskusi atau pelajari, saya tak urung jadi minder habis-habisan, merasa uncompentent. Bagaimana coba rasanya minder karena sesuatu yang tidak kita sukai? Malah aneh kan? Maksudnya, kalau kita gak suka di suatu bidang, terus merasa tidak berkompeten disana, harusnya wajar saja kan. Namanya aja gak suka? Gak perlu pake merasa minder.

Masalahnya kan saya juga pengen bisa suka bidang ini seperti mereka -..-

Di titik ini saya merasa seperti berusaha menjadi orang lain. Ketika menyadari saya ingin menjadi orang lain, diri saya yang lain malah memberontak tak karuan. Kalau sudah seperti ini, rebek lagi masalahanya. Saya tiba-tiba pengen balik ke rencana lama yang tidak bisa digapai lagi, karena itulah diri saya yang sebenarnya. Tiba-tiba saya tidak mau berusaha menyukai bidang yang saya jalani ini. Saya tahu ada bidang lain dimana saya bisa expert disana, absolute advantage saya disana, tapi benar-benar tak bisa saya tunjukkan pada siapapun karena, hei, kenapa harus menunjukkan betapa tahunya kamu akan peta Jogja di saat kamu sedang berada di Pekanbaru? Kenapa harus menunjukkan pengetahuan biologi di lingkungan ilmu politik? Tak ada gunanya kan? Ribet bener gilak.

Kendali diri saya masih perlu dilatih. Kebayang kan, melelahkannya seperti ini bertahun-tahun?

Tapi tidak apa-apa. Kalau kata Pak Damhuji, tidak semua orang diberi kesempatan untuk melatih kendali dirinya, makanya Tuhan ngasih perasaan adem ayem aja sama mereka dulu, karena dianggap belum sanggup. Ini karena saya sudah dipercaya Tuhan bisa menjalaninya *menghibur diri. Ingat kendali diri, rasa sabar dan rasa syukur atau perasan postif ‘penguat’ lainnya tidak diberikan begitu saja. Harus ada ‘sesuatu’ untuk menguji rasa sabar untuk melihat sesabar apa kita. Ada sesuatu yang dihilangkan untuk melihat seikhlash apa kita. Ada masalah-masalah atau rintangan yang diberikan untuk menguji sejauh apa kendali diri kita. Kalau kata Bunda, siapa tau saya diberi program akselerasi dalam mendewasakan diri karena ujiannya lebih sering—hahaha—terlalu sering ‘berfluktuasi’ sehingga lebih sering punya ‘kesempatan’ untuk mengendalikan diri.

Sok tau banget memang -____-

Satu-satunya yang tulus menyemangati saya untuk terus belajar tanpa paksaan adalah karena Allah akan sudah menyuruh kita untuk belajar dan meninggikan derajat orang-orang yang mau menuntut ilmu. Itu satu-satunya penghiburan saya yang ampuh, dan anehnya sering luput dari pikiran saya. Setan memang benar-benar jahat. Atau iman saya tidak kuat?

“Tuntutlah ilmu dan belajarlah (untuk ilmu) ketenangan dan kehormatan diri, dan bersikaplah rendah hati kepada orang yang mengajar kamu.” (HR. Al-Thabrani)

“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadila 59:11)

Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qolam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al ‘Alaq: 1-5).

“Seorang alim apabila menghendaki dengan ilmunya keridhoan Allah maka ia akan ditakuti oleh segalanya, dan jika dia bermaksud untuk menumpuk harta maka dia akan takut dari segala sesuatu.” (HR. Al-Dailami)

Sama seperti yang saya bilang sebelumnya di atas. Pada keadaan ini yang saya lupakan adalah iklash. Iklash mau belajar karena Allah menyuruh kita untuk menuntut ilmu. Karena kalau sudah iklash, kalau belajar sudah karena Allah, untuk apa lagi passion di bidang itu? Hehe saya tahu ada yang protes, saya pun begitu hahaha. Sebagai orang yang pernah kuat sekali dalam mengejar cita-cita, saya kadang tetap gak bisa terima pernyataan seperti tadi.

Disitu kadang saya merasa sedih :(

Dan saya tidak bisa terus-terusan berdiri pada banyak sudut pandang yang saling bertengkar dalam diri saya. Harus dipilih salah satu sudut pandang saja, karena hidup dengan seluruh sudut pandang memang membuatmu peka. Tapi di sisi lain juga melelahkan.

Passion kita justru ridho Allah. Itu yang harusnya kita kejar.

Maka baiklah.

Hidup yang layak itu karena dia terus diperjuangkan. Bukan hanya cita-cita dan tujuan hidup saja yang harus diperjuangkan. Kendali atas diri kita untuk tetap istiqomah, tidak mudah jatuh, tidak pernah putus harapan pada Allah, itu juga harus diperjuangkan. Tidak pantas seseorang berhenti berjuang dan berhenti berharap hanya karena tidak berada di passion dan cita-citanya. Sama sekali tidak pantas. Apapun yang terjadi, jangan pernah menyerah, jangan pernah berhenti berjuang, jangan pernah putus harapan sama Tuhan!

Hasbunallah wa ni’mal wakiil !!


No comments:

Post a Comment