Monday, February 9, 2015

Hati-Hati Di Jalan Yang Lurus, Bukan di Tikungan!



“Nan paralu bana hati-hati tu di jalan nan luruih, ndak di tikungan doh. Kalau di tikungan tu urang ka jaleh juo ado pangana supayo hati hati-hati. Kalau di jalan luruih lah babahayo sajo awak ndak tau, awak lah terlanjur ndak hati-hati doh”

Translatenya:

“Yang paling perlu untuk hati-hati itu justru di jalan yang lurus, bukan di tikungan. Kalau di tikungan udah jelas juga orang kepikiran buat hati-hati. Tapi kalau di jalan yang lurus, sudah berbahaya saja kita tidak sadar, kita sudah terlanjur tidak hati-hati”

Ini ungkapan yang tidak sengaja terdengar dari abang tukang martabak di Martabak Ratulangi depan Ratulangi Photo Studio, saat saya sedang menunggui Martabak Coklat Keju pesanan saya (˘ڡ˘). Saya tidak bisa menahan senyum hampir ketawa mendengar quotes yang tercetus begitu saja saat dia sedang bicara dengan teman kerjanya.

Ungkapan ini punya banyak makna dan multi-tafsir. Apalagi kosakata bahasa daerah memang lebih ‘ekspresif’ ketimbang bahasa Indonesia, sehingga makna yang terkandung dalam bahasa daerah terdengar lebih dalam jika diungkapkan dalam bahasa itu sendiri.

Kalau saya bisa saja menafsirkan seperti ini: Hati-hati kalau sudah punya pasangan, dijaga hubungannya, jangan merasa sudah aman saja dan merasa lalai untuk bersikap hati-hati (jalan yang lurus). Kalau mau menikung sih orang udah pasti hati-hati, nah kalau orang yang di ‘jalan lurus’ tadi gak siap dan gak hati-hati, malah bisa dia yang celaka.

Yeah. Yang bikin tafsiran kebetulan juga jomblo. Jadi harap dimaklumi -___-

Atau tafsiran lain: kadang kita sudah merasa pada comfort zone alias zona nyaman seperti jalan yang lurus tadi. Lupa kadang-kadang butuh persimpangan untuk ‘berubah’. Nah tikungan bukan selalu berarti buruk. Orang yang berada di tikungan atau persimpangan akan lebih hati-hati dalam bertindak dan mengambil keputusan ketimbang orang yang sudah merasa nyaman di jalan yang lurus itu. Lurus-lurus terus tau-tau jalan yang diikuti ternyata udah salah sampai sejauh itu.

Kayaknya ini tafsiran yang mungkin agak benar sikit :3

Kesimpulan: Jangan lupa untuk hati-hati di jalan yang lurus. Karena jalan yang lurus punya bahaya tersendiri. Bahaya yang sering diabaikan saking lurusnya jalan yang ditempuh.


NB: Kalau ada yang mau coba, ini salah satu martabak yang paling enak yang pernah saya coba. Namanya Martabak Bandung Ratulangi, orang-orang biasa nyebutnya dengan ‘Martabak Ratulangi’ aja. Lokasi di jalan Ratulangi tepat di depan Ratulangi Photo Studio, berseberangan dengan Toko Buku Sari Angrek :3

2 comments:

  1. Sadap banar inieh :D
    saat jalan lurus udah ngerasa aman banget padahal sapa tau ada yg tiba2 nyebrang hehehhehhe

    salam kenal, mampir yaaa ke Blog Ca Ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa lurus-lurus tau-tau ada polisi razia :D
      salam kenal juga :D

      Delete