Thursday, November 19, 2015

random


Assalamuallaikum, rindu.
Tadi temanku baru saja membaca puisi—atau doa lebih tepatnya—yang kubuat untukmu. Mungkin kamu belum baca, tapi tidak apa. Tidak perlu sampai padamu, yang penting sampai ke Tuhan. Dan Tuhan sampaikan padamu dalam bentuk pengabulan.

Tapi melihat reaksi teman saya yang biasa saja, barangkali kamu yang seleranya lebih tinggi akan menganggapnya jauh lebih biasa. Atau bahkan murahan.

Ih, murahan.

Thursday, November 12, 2015

Sekali Lagi


Karena barangkali kita belum pernah bertemu
Lantas bolehkah aku bertanya
Siapakah dirimu?

Kepada angin yang menjatuhkan daun kau kutanyai
Kepada asap yang menyelimuti kotaku, barangkali kau tersembunyi
Kepada hujan oktober kau selalu aku rindui

Lantas siapakah dirimu?


Dalam rangkaian kata dan sela-sela huruf kau kucari
Dan di dalam doaku pada Tuhan, semoga kau dapat kutemui
Tidak harus sekarang
Boleh jadi nanti
Saat semuanya terang dan kesabaran kita akan menang
Berharap jarak lah yang akan menjaga kita
Dan waktu lah yang menjawab seberapa jauh kekuatan kita

Kalau semua amalan yang kita lakukan menjadi terbatas karena kekhawatiran kita akan pandangan orang, lantas bagaimana dengan kekhawatiran kita akan pandangan Allah?
Nanti Allah bisa cemburu. Dan cemburunya Allah itu mengerikan akibatnya.
#nampardirisendiri

Saturday, September 12, 2015

Bisa Saja



Bisa saja seseorang meninggalkan kesan yang sangat dalam bagi kita, tapi bagi dia kita hanyalah orang yang sepintas lalu saja dalam hidupnya.
Tidak diingat, tidak dikenang, tidak menjadi apa-apa.