Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Friday, July 15, 2016

Tentang Puisi 'Tuan dan Kematian'

Sedikit saja. 

Pertama, saya meragukan ini puisi atau bukan. Dalam artian, saya sendiri masih ragu menamai sebuah tulisan dengan label 'puisi'. Saya tidak tahu persis seperti apa pusi, mau bagaiamanapun semua orang, semua guru, dan semua buku menjelaskan pengertian pusi pada saya. Saya seolah seperti punya definisi lain mengenai puisi. Seperti ada yang mengendap, ada yang mengalir, ada yang 'punya nyawa', begitu abstrak dalam kepala dan hati saya, dan saya tak bisa terjemahkan dalam bahasa verbal biasa. Sekalipun saya sering sekali menuliskannya.

Mungkin ini bukan puisi. Hanya tulisan yang menyerupai puisi.

Tuan dan Kematian



Tuan, di kota penuh mimpi ini
kita sama-sama sudah mati
ingatkah kau saat malaikat pencabut nyawa berkali-kali ingin menyinggahi
namun katanya dia sedang sibuk menjemput
orang-orang laknat semacam kita yang
mengiba-ngiba meminta detik yang tak seberapa
karena, Tuan...
jantung kita yang menyusut dan
jasad kita yang mendingin
ingin diberi tahu seperti
apa rasanya dihidupkan sebuah perasaan yang
membuat penasaran akan
guncangan detakan, jika ia tersampaikan

Tuan, kematian tidaklah seberapa jika
dibandingkan kematian yang dulu kita  buat-buat dalam adukan
kopi yang tak pernah kita hirup berdua
dan kita biarkan mendingin sia-sia

Tuan, malaikat sudah menunggu
sudikah kiranya kau bicara?
kata-kata terakhir untuk kita (?)

Friday, February 26, 2016

Pada Kopi

pada kopi yang tak pernah sanggup aku hirup
aku tumpahkan segala kepahitan akan
ketidaktahuan perasaan yang berdenyut-denyut mengerikan

lalu aku tanyakan padanya,

wahai kopi, mengapa engkau sudi
menjadi kepahitan yang dihirup oleh semua orang

tidakkah engkau malu?

Gelas itu mendekat dan berbisik

halus sekali

ini bukan perkara sudi atau tidak sudi, wahai anak gadis!
manusia yang justru candu berpahit-pahit hidup
sedangkan gula berlinang-linang di lidah ia butakan seolah-olah tak pernah merasa, seolah-olah tak pernah sengaja.

atas linangan gula yang engkau butakan, tidakkah engkau merasa malu?

atau hirup saja kopimu untuk merayakan
rasa malumu yang tak
pernah mau tahu menahu

Thursday, November 12, 2015

Sekali Lagi


Karena barangkali kita belum pernah bertemu
Lantas bolehkah aku bertanya
Siapakah dirimu?

Kepada angin yang menjatuhkan daun kau kutanyai
Kepada asap yang menyelimuti kotaku, barangkali kau tersembunyi
Kepada hujan oktober kau selalu aku rindui

Lantas siapakah dirimu?


Dalam rangkaian kata dan sela-sela huruf kau kucari
Dan di dalam doaku pada Tuhan, semoga kau dapat kutemui
Tidak harus sekarang
Boleh jadi nanti
Saat semuanya terang dan kesabaran kita akan menang
Berharap jarak lah yang akan menjaga kita
Dan waktu lah yang menjawab seberapa jauh kekuatan kita

Saturday, September 12, 2015

Pergi


Kau pergi. Meninggalkan sejumput rasa yang asing dan sulit kubaca.
Sebab itu kini aku bertanya: apa maksudmu?
 
Tapi kau telah pergi. Hingga tak lagi punya daya untuk menjawab tanyaku, bahkan untuk sekadar mendengarnya. Jadilah aku masih setia berdiri di sini dan terus bertanya: apa maksudmu?

Aku titipkan tanyaku pada Tuhan, yang memergikanmu.
Titipkan juga jawabmu pada Tuhan, yang menguatkanku.


-Azhar Nurun Ala, dalam Ja(t)uh


Mungkin aku lah yang pergi di sini. Atau barangkali kita, dengan arah yang berbeda. Karena tak seorang pun merasa ditinggalkan dalam hal ini. Tidak denganku, tidak pula kau.

Monday, April 6, 2015

Sajak Kecil Tentang Cinta


Sajak Kecil Tentang Cinta

Mencintai angin harus menjadi siut
Mencintai air harus menjadi ricik
Mencintai gunung harus menjadi terjal
Mencintai api harus menjadi jilat 
Mencintai cakrawala harus menebas jarak
MencintaiMu harus menjelma aku

-Sapardi Djoko Damono



Wednesday, June 25, 2014

Sajak Bagaimana #2

Bagaimana aku bisa mencintai bulan
Sedangkan di saat yang sama aku membenci malam

Bagaimana aku akan mencintai petir
Sedangkan di saat yang sama aku membenci hujan

Dan bagaimana boleh aku mencintai pantai
Padahal aku tidak ingin mendengarkan suara ombak

Ini bukan soal membenci bagian dari dirimu.
Aku hanya membenci kondisi-kondisi yang terjadi
saat aku mencintaimu.