Showing posts with label fokus masalah. Show all posts
Showing posts with label fokus masalah. Show all posts

Friday, October 14, 2016



“Saya dalam posisi sudah ikhlash. Kalau ada dendam di saya, saya sakit. Bisa stress saya”

-Antasari Azhar, dalam Kick Andy
Januari 2015

Monday, May 18, 2015

Hello, blog!



Hello blog.

Now I just arrived at home, tired and hungry. Instead of sleeping and taking rest, I am looking at you. Typing on your page. I don’t know how far I am still fine now. I think, I’m  going to be crazy for everything that had happened before and for whatever probably going on after .. uh, uh. Exactly I don’t know the reason why I’m going to be crazy -..- Fajar has text me, warned about PKTI propose that should be ready to bring up tomorrow. At the same time, I have to finish my arch designing and make sure it’s gonna be awesome and beautiful as same as the others wish to me. At least, if the arch can standing without some problem, it’s really enough to me. No need being awesome and pretty, just standing effectively for a whole day, it’s enough. My challenge writing deadline haunts me every single time and feels like a big disappointment if I can’t finish these all. How could I say myself as writer and tellers of tales, if only for these challenge, I choose to giving up, without trying. How about college and KKN? Forget it. I will start to think about it, when the May has finished and June has started herself.

Everything has really fed me up .-.

Sunday, May 3, 2015

Luka Ini Kecil Saja…



Akhir-akhir ini saya mendapati kondisi tubuh saya sedikit kurang baik, meriang—apapunlah arti meriang itu. Semua persendian saya pegal-pegal, makan tidak enak, tidur apalagi. Saya sudah menduga darimana sumbernya. Beberapa luka—well, dalam artian sebenarnya hahaha—menganga lebar dan sedang dalam tahap proses penyembuhan awal. Tahu sajalah seperti apa luka yang masih fresh dan kondisinya belum begitu baik. Apalagi kalau lukanya ada di lutut (paling parah) dan di siku. Tempat-tempat paling strategis untuk memperlama penyembuhan luka. Belum lagi ditambah beberapa memar dan luka-luka kecil lainnya. Saya tidak tahu ternyata kondisi saya sampai separah itu, dan pada hari itu saya masih happy-happy saja dengan segala macam aktifitas. Sampai baru nyadar satu hari setelahnya, “Kok sampai begini banget?” -__- Dan sambil membereskan tetek bengek luka-luka ini saya justru kepikiran banyak hal.

Friday, April 17, 2015

Penerimaan



Apa yang lebih penting daripada semangat yang tinggi dan usaha yang keras?

Penerimaan. That’s it. Menerima seperti apapun hasil yang kita dapatkan, dan percaya seperti  apapun yang kita dapatkan berarti itulah yang terbaik. Tidak lagi mengungkit-ungkit sebesar apapun semangat dan usaha kita terdahulu. Sebenarnya cukup sulit bagi saya memahami dan menerima hal ini. Karena selama ini saya percaya bahwa ‘usaha tak akan mengkhianati hasil’. Hanya saja jika benar seperti itu, pastilah saya sudah mendapatkan semua yang saya impikan, semua yang saya cita-citakan. Paling tidak, semua yang pantas saya dapatkan sesuai dengan usaha saya. Tapi ingat, masih ada takdir yang menjadi penentu, jauh lebih efektif dari pada segala daya dan upaya manusia. Jika sudah takdir yang bicara, pada akhirnya, ini bukan masalah ‘usaha-nya mengkhianati atau tidak’. Tapi ‘hatinya mau menerima atau tidak. Jika hatinya ikhlas dan mau menerima, percaya bahwa apapun yang terjadi karena Tuhan memilihkan yang terbaik baginya, tidak pamrih dan mengulang-ulang upaya-nya di masa lalu, maka dia akan hidup dengan tenang. Jika tidak bisa menerima, maka terkutuklah hidupnya, sengsara dalam penolakan-penolakan yang sebenarnya tak bisa diubah oleh tangan dan usahanya. Sebesar apapun dia berusaha.

Thursday, March 12, 2015

Ngelunjak: 24 SKS vs 61 SKS




Gue sempat heran ke diri sendiri yang kemaren ini heboh dan alay banget sama ‘padatnya jadwal kuliah. Halah, padahal kuliah gue paling-paling ‘cuma’ 24 sks per semesternya. Masih mending banget semester gue udah mau habis teori, jadi jadwal agak longgar sedikit. Gak tau musti alhamdulillah atau nauzubillah. Alhamdulillah dong, tau-tau udah tahun tiga aja, tau-tau udah mau kelar aja semua teori. Nauzubillah-nya? Berarti gue musti segera proposal dan nyusun skripsi abis ini. Pasti kuch-kuch hotahai banget berat badan gue beberapa bulan ke depan.

Monday, February 9, 2015

Hati-Hati Di Jalan Yang Lurus, Bukan di Tikungan!



“Nan paralu bana hati-hati tu di jalan nan luruih, ndak di tikungan doh. Kalau di tikungan tu urang ka jaleh juo ado pangana supayo hati hati-hati. Kalau di jalan luruih lah babahayo sajo awak ndak tau, awak lah terlanjur ndak hati-hati doh”

Translatenya:

Monday, December 29, 2014

Curhat Darurat: Semester Berdarah




         
Gue berasa makin mirip zombie aja akhir-akhir ini. Walaupun masih tetap cantik sih :D

Gak nyadar udah akhir 2014 aja. Gimana gue mau nyadar coba kalo gue masih terjebak nostalgia di 2012? Bukan. Bukan terjebak nostalgia. Iya sih sedikit hehe.  Tapi gue udah gak sempat lagi menghitung ataupun memperhatikan kalender selain buat mantengin batas deadline. Deadline apa? SEMUANYA! Tugas konsentrasi jurusan yang seabrek-abrek, program kerja lembaga, anggaran, lomba-lomba, liputan, panitia, rapat, dan sederet kegiatan yang kalo gue list justru malah lebih lama bikin list-nya daripada menyelesaikan deadline-nya.

Wednesday, October 29, 2014

Mungkin Kira-Kira Begini...



Sejak beberapa bulan yang lalu, saya menyadari satu hal. Saya tidak terbiasa lagi menghindari perasaan-perasaan tidak enak, berpura-pura bahwa perasaan tersebut tidak ada, berpura-pura bahwa saya tidak merasakannya. Dengan kemudian membawanya tidur lantas berharap saat bangun perasaan-perasaan buruk tersebut sudah terlupakan. Ternyata tidak efektif sama sekali. Semakin saya dewasa, sikap seperti ini sudah tidak relevan lagi. Ada gemuruh yang membikin  nyeri di dalam dada ketika saya tahu saya merasakannya, tapi saya tidak mau ambil pusing tentang apa yang akan saya perbuat dengan perasaan-perasaan tersebutselain lari sejauh-jauhnya. Kenyataan bahwa saya tidak mampu mengatasinya dengan cepat kemudian menghindar (dan selalu disadari terakhir), membuat saya jadi kesal luar biasa pada diri sendiri. Saya sendiri bingung karena di luar sana ada begitu banyak orang yang melakukan hal yang sama seperti saya. Melupakan perasaan buruk/negatifnya hanya dengan tidak mau memikirkannya. Tapi saya sudah terlalu sering melakukannya sehingga akhirnya saya menyadari, saya tidak bisa terbiasa lagi berhutang perasaan pada diri sendiri dengan berpura-pura menganggapnya tak ada.

Saturday, October 25, 2014

jangankan untuk merasakan euforia



jangankan untuk merasakan euforia, untuk merasakan capek, marah, ingin nangis, atau sakit (secara fisik) sekalipun, saya merasa tak pantas. rasanya ada yang lebih pantas untuk itu, tapi mereka tidak melakukannya. atau tidak menunjukkannya.

Saturday, August 23, 2014

-My Name Is Khan, and I Love You :3



Wuaaah ini film yang udah lama banget gue tonton dan tiba-tiba ingat gue pernah screenshoot kata-kata Khan yang dia tulis dalam notebooknya saat Khan lagi duduk di halte. Setelah gue cari-cari, bongkar-bongkar file, baru gue ketemu screenshoot diatas. Setelah kalimat “My Name is Khan, and I am not terrorist”, kalimat diatas menjadi kalimat favorit gue. Kemudian kalimat “Maukah kau memelukku? Dua menit?”

Friday, August 22, 2014

Quote: Korelasi Masalah dan Perasaan




Gue akan menulis sesuatu di posting ini, dengan topik yang lebih spesifik. Tapi gue hutang dulu karena lagi sibuk dengan persiapan kuliah semester 5, gak bisa siap sekarang. Lebih tepatnya perasaan gue yang gak siap. Sedangkan sekarang-sekarang ini adalah masa-masa yang tak boleh terganggu oleh perasaan. Harus steril dan netral. Tunggu setelah gue siap ngisi KRS yang tak berkesudahan ini. Setelah itu, terserah!



Wednesday, June 25, 2014

Masih Tetap Belajar Namanya, kan?


Harusnya saya belajar sekarang. Tapi saya juga harus menulis. Maka baiklah.

Saya yakin bahwa apa yang saya pilih dan saya jalani sekarang adalah atas dasar Allah yang menuntun serta mengarahkan. Tugas saya adalah menjalani dan merasakan. Selebihnya ikhlaskan semuanya hanya karena Allah. Cukup hanya karena Allah.

Sekarang saya dihadapkan pada kondisi yang sulit.

Thursday, May 29, 2014

Long Time No Post-Kemana Aja, Pe?

Oke oke. Gue udah lama banget gak posting apa-apa. Dan gue paham banget kalo orang-orang jadi pada kangen. Kata nyokap sih, gue orangnya memang ngangenin. Yaaa namanya orang tua yang ngomong, gue sih percaya-percaya aja :3

Bunda            :    “Putri kapan pulang, nak?”
Pea                :    “Akhir Juni baru siap ujiannya, Nda. Ada apa Nda?”
Bunda            :     “Bunda… kangen…”

Hening…
Langsung lari-lari di bawah hujan…

Terlepas dari persoalan kangen-kangenan, gue minta maaf ketidak-konsisten-an gue dalam mengelola blog. Walaupun gue gak tau  kenapa musti minta maaf padahal ini kan blog pribadi gue -__- siapa tau memang ada yang nunggu-nunggu tulisan gue kan? Siapa tau dia yang disana mau tau keadaan gue lewat blog kan? Siapa taauuuu…

Wednesday, April 16, 2014

Menolak / Berkata TIDAK: Bukan Hanya Dikatakan, Tapi Ditindaklanjuti



Saya tidak tahu bagaimana saya akan menuliskannya. Beberapa hal mencemaskan saya dan membuat saya tidak nyaman.


Saya tahu, beberapa waktu lagi saya akan disalah-salahkan untuk kesalahan yang awalnya bukanlah kesalahan saya. Oh bukan, dari waktu-waktu awal sudah seperti itu. Saya lebih mencemaskan blaming selanjutnya yang bisa jadi lebih parah dari sebelum-sebelumnya. Hanya saja sudah percuma, dari awal permasalahan saya membela diri juga percuma. Penjelasan pun seperti… hahaha seolah-olah akan didengar saja. Perkaranya seperti ‘hitam diatas putih’, yang dari awalnya sudah saya tolak karena tidak memungkinkan bagi saya untuk melaksanakannya. Tapi apa boleh buat. Manusia berencana, manusia lain lebih berkehendak ternyata -___- Halah tinggal diketik, di print dan jreng.. jreeengg… resmilah nama saya tertulis sebagai penyandang tanggung jawab… atau setidaknya ada sebuah nama ‘hitam diatas putih’ yang akan disalah-salahkan jika semuanya tidak berjalan lancar.

Sunday, November 17, 2013

Bukan Diganti 10 Kali Lipat, Tapi Dijaga Baik-Baik





Rambut saya panjang sekali, sekarang saja sudah lebih sepanggul. Saya sudah berambut panjang sejak kelas 5 SD, dipotong sekali-sekali, sedikit-sedikit. Untuk merapikan ujungnya yang mulai tidak beraturan. Walaupun berjilbab memiliki rambut panjang tidak pernah menjadi masalah bagi saya. Ini juga karena Ayah yang suka jika kami—Bunda dan kami anak-anak gadisnya—untuk berambut panjang. Kalo kami mau potong rambut, beliau rusuh sekali hatinya. Macam rambutnya saja yang akan dipotong. Ayah sih, seneng sih seneng sama rambut panjang, tapi yang berambut panjang kan kami, beliau kan gak ikut repot-repot ngurusinnya -___-
Tapi gapapa sih berambut panjang, setidaknya untuk menunjukkan sisi feminin saya yang sedikit macho ini :D
Tapi artikel kali ini tentu saja bukan membahas rambut saya sebagai bahan utama ceritanya. Itu sih pengantar saja. Karena rambut panjang, sewajarnya saya punya banyak pernak-pernik rambut. Mulai dari berbagai macam jepit rambut kecil-kecil, yang tipis biasa ataupun macam bundelan, jepit rambut ‘buaya’,