Showing posts with label little thing. Show all posts
Showing posts with label little thing. Show all posts

Wednesday, August 17, 2016

#BOTD : Breakfast of The Day╭(^▽^)╯

We don't need caption. We only need to eat them all :3

Satu kotak Ultra Milk Coklat Low Fat 250 ml, satu botol You-C1000 edisi Manchester United (Yey!) 500 ml dan satu kotak Roti Jala Kuah Santan.

Gak penting banget kan?(-_\)

Tapi berhubung gue bahagia, ini jadi penting banget.

Btw, ini salah satu cara memerdekakan diri dari tuntutan skripsi. Karena mengerjakan skripsi butuh energi. Sebagian besar energi habis di depan laptop buat berpikir dan menganalis. Dan sebagian (besarnya) lagi energi habis buat menjawab pertanyaan 'kapan wisuda', 'mana pendamping wisuda', ataupun 'skripsi udah sampai mana'. Haha. Sampai mana? Sampai udah nyerah dan mau nikah aja rasanya.(/.\)

udah gitu aja. Selamat sarapan teman teman. Ini sarapanku, mana sarapanmu?



-------------------
Ps: tulisan ini ditulis sebagai penawar letih saat mengerjakan skripsi. Bisa juga disebut sebagai 'pengalihan isu' :D

Sunday, July 17, 2016

Album Kedua Banda Neira!

Album Kedua Banda Neira!
“Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti”



Ketemu di Rimbun Caffe, Jl. Kis Mangunsarkoro, Padang. Jauh-jauh pengen beli online ke Surabaya, ternyata dijual di caffe yang gak jauh dari rumah sendiri (di Padang). -_____- Caffenya manis banget dengan paduan konsep ‘coffebar’ dan ‘indiepeople’ tapi gak keliatan sengak so bawaannya nyaman aja disana. Sayangnya saya tidak bisa lama-lama karena sedang ada acara di caffe sebelah sama teman-teman lainnya.

Friday, July 15, 2016

Tentang Puisi 'Tuan dan Kematian'

Sedikit saja. 

Pertama, saya meragukan ini puisi atau bukan. Dalam artian, saya sendiri masih ragu menamai sebuah tulisan dengan label 'puisi'. Saya tidak tahu persis seperti apa pusi, mau bagaiamanapun semua orang, semua guru, dan semua buku menjelaskan pengertian pusi pada saya. Saya seolah seperti punya definisi lain mengenai puisi. Seperti ada yang mengendap, ada yang mengalir, ada yang 'punya nyawa', begitu abstrak dalam kepala dan hati saya, dan saya tak bisa terjemahkan dalam bahasa verbal biasa. Sekalipun saya sering sekali menuliskannya.

Mungkin ini bukan puisi. Hanya tulisan yang menyerupai puisi.

Thursday, July 14, 2016

Ada yang Lebih Susah

Ternyata ada yang lebih susah daripada skripsi dan patah hati.

Yaitu, belajar membawa motor :D (╥﹏╥)

Tuesday, February 9, 2016

Is it real or just another crush? #oldsong

I hung up the phone tonight
Something happened for the first time deep inside
It was a rush, what a rush
'Cause the possibility
That you would ever feel the same way about me
It's just too much, just too much
Why do I keep running from the truth?
All I ever think about is you
You got me hypnotized, so mesmerized
And I've just got to know

Do you ever think when you're all alone
All that we can be, where this thing can go?
Am I crazy or falling in love?
Is it real or just another crush?
Do you catch a breath when I look at you?
Are you holding back like the way you do?
'Cause I'm trying and trying to walk away
But I know this crush ain't goin' away-ay-ay-ay-ayy
Goin' away-ay-ay-ay-ayy

Tuesday, January 5, 2016

Ternyata...

Ternyata waktu, prioritas, kesibukan dan kedewasaan bisa mengambil banyak hal yang kita miliki. Termasuk teman-teman kita. Termasuk orang-orang kesayangan kita. Termasuk juga diri kita sendiri.
Tapi apapun yang kita pilih sekarang, seberbeda apapun jalan yang kita ambil, semoga baik aku maupun kamu selalu dilimpahkan kebahagiaan dan kesehatan serta hati yang tenang. Suatu hari akan ada saatnya kita untuk 'reuni', ketika kita bisa menjadi 'kita' yang lama, ketika menjadi 'kita' yang dirindukan.

Berbahagialah dan tetaplah sehat.


Salam,
(yang selalu sayang padamu)
 
 

Sunday, December 13, 2015

Hello (Adele)-Life should to going on, rite? So do I

 Hello- Adele

Hello, it's me
I was wondering if after all these years you'd like to meet
To go over everything
They say that time's supposed to heal
But I ain't done much healing

Hello, can you hear me?
I'm in California dreaming about who we used to be
When we were younger and free
I've forgotten how it felt before the world fell at our feet
There's such a difference between us
And a million miles

Saturday, November 21, 2015

Agar Kita Sama-Sama Bahagia



Apakah manusia lain harus mengerti alasan seseorang dalam mengambil keputusan? Saya tidak tahu persis. Hal-hal seperti ini kondisonal sekali, kan? Kadang kita butuh mendengar pendapat dari orang lain, sekalipun pendapat-pendapat tersebut tidak akan mengubah keputusan akhir kita. Saking kukuhnya, atau saking bebalnya. Kadang ada juga orang yang (sebenarnya) tidak ingin mendengar pendapat orang lain, namun saat terdengar bisa saja langsung memengaruhi keputusan yang diambilnya. Saking toleran-nya, atau saking linglungnya.

Saya tidak tahu apa yang terjadi. Yang jelas, sejak saya kuliah saya sudah meminta dan membujuk diri saya untuk terima saja dengan apapun yang terjadi. Berjanji akan mengikuti arus kemanapun Tuhan mengarahkan. Berjanji tidak meminta hal-hal yang tidak realistis. Tidak bersikeras hati lagi. Tidak akan macam-macam dengan cita-cita dan masa depan. Apa yang dikasih, udah, terima. Pasti itu yang terbaik. Terbalik dengan masa muda saya yang penuh upaya dan harapan akan cita-cita yang cerah. Saya yang sekarang bukannya tidak bersemangat, malah sekarang jauh lebih besar upayanya untuk semangat. Hanya saja sekarang sudah sedikit lebih nrimo. Sedikit aja sih. Ujiankah? Atau hukuman? Kalau sekarang, saya tidak tahu ujian atau hukuman (lagi) dari Tuhan, saya merasa dikembalikan menjadi anak usia 14 tahun yang tidak realistis. And full of drama. And seriously, it has really fed me up.

Saturday, September 12, 2015

Pergi


Kau pergi. Meninggalkan sejumput rasa yang asing dan sulit kubaca.
Sebab itu kini aku bertanya: apa maksudmu?
 
Tapi kau telah pergi. Hingga tak lagi punya daya untuk menjawab tanyaku, bahkan untuk sekadar mendengarnya. Jadilah aku masih setia berdiri di sini dan terus bertanya: apa maksudmu?

Aku titipkan tanyaku pada Tuhan, yang memergikanmu.
Titipkan juga jawabmu pada Tuhan, yang menguatkanku.


-Azhar Nurun Ala, dalam Ja(t)uh


Mungkin aku lah yang pergi di sini. Atau barangkali kita, dengan arah yang berbeda. Karena tak seorang pun merasa ditinggalkan dalam hal ini. Tidak denganku, tidak pula kau.

Sunday, May 3, 2015

Luka Ini Kecil Saja…



Akhir-akhir ini saya mendapati kondisi tubuh saya sedikit kurang baik, meriang—apapunlah arti meriang itu. Semua persendian saya pegal-pegal, makan tidak enak, tidur apalagi. Saya sudah menduga darimana sumbernya. Beberapa luka—well, dalam artian sebenarnya hahaha—menganga lebar dan sedang dalam tahap proses penyembuhan awal. Tahu sajalah seperti apa luka yang masih fresh dan kondisinya belum begitu baik. Apalagi kalau lukanya ada di lutut (paling parah) dan di siku. Tempat-tempat paling strategis untuk memperlama penyembuhan luka. Belum lagi ditambah beberapa memar dan luka-luka kecil lainnya. Saya tidak tahu ternyata kondisi saya sampai separah itu, dan pada hari itu saya masih happy-happy saja dengan segala macam aktifitas. Sampai baru nyadar satu hari setelahnya, “Kok sampai begini banget?” -__- Dan sambil membereskan tetek bengek luka-luka ini saya justru kepikiran banyak hal.

Friday, April 17, 2015

Penerimaan



Apa yang lebih penting daripada semangat yang tinggi dan usaha yang keras?

Penerimaan. That’s it. Menerima seperti apapun hasil yang kita dapatkan, dan percaya seperti  apapun yang kita dapatkan berarti itulah yang terbaik. Tidak lagi mengungkit-ungkit sebesar apapun semangat dan usaha kita terdahulu. Sebenarnya cukup sulit bagi saya memahami dan menerima hal ini. Karena selama ini saya percaya bahwa ‘usaha tak akan mengkhianati hasil’. Hanya saja jika benar seperti itu, pastilah saya sudah mendapatkan semua yang saya impikan, semua yang saya cita-citakan. Paling tidak, semua yang pantas saya dapatkan sesuai dengan usaha saya. Tapi ingat, masih ada takdir yang menjadi penentu, jauh lebih efektif dari pada segala daya dan upaya manusia. Jika sudah takdir yang bicara, pada akhirnya, ini bukan masalah ‘usaha-nya mengkhianati atau tidak’. Tapi ‘hatinya mau menerima atau tidak. Jika hatinya ikhlas dan mau menerima, percaya bahwa apapun yang terjadi karena Tuhan memilihkan yang terbaik baginya, tidak pamrih dan mengulang-ulang upaya-nya di masa lalu, maka dia akan hidup dengan tenang. Jika tidak bisa menerima, maka terkutuklah hidupnya, sengsara dalam penolakan-penolakan yang sebenarnya tak bisa diubah oleh tangan dan usahanya. Sebesar apapun dia berusaha.

Thursday, March 12, 2015

Ngelunjak: 24 SKS vs 61 SKS




Gue sempat heran ke diri sendiri yang kemaren ini heboh dan alay banget sama ‘padatnya jadwal kuliah. Halah, padahal kuliah gue paling-paling ‘cuma’ 24 sks per semesternya. Masih mending banget semester gue udah mau habis teori, jadi jadwal agak longgar sedikit. Gak tau musti alhamdulillah atau nauzubillah. Alhamdulillah dong, tau-tau udah tahun tiga aja, tau-tau udah mau kelar aja semua teori. Nauzubillah-nya? Berarti gue musti segera proposal dan nyusun skripsi abis ini. Pasti kuch-kuch hotahai banget berat badan gue beberapa bulan ke depan.

Tuesday, March 10, 2015

Menantang Rasa Nyaman




“Seseorang tidak bisa terus menerus berlari saat keadaan fisiknya sudah tidak lagi memungkinkan.”


Saya sering sekali mengorbankan ‘rasa nyaman’ hanya karena tidak mau kalah oleh keadaan. Malu. Kalau sama masalah beginian saja saya bisa kalah, bisa tidak tahan, bagaimana mau menghadapi hidup yang akan jauh lebih berat ke depannya? 

Wednesday, February 11, 2015

Pakai Bedak

*gue lagi ngerapiin bedak

Gue              : Nda, bedak Putri ketebelan gak?
Bunda           : Emang Putri udah pake bedak?

Yaelah.

Monday, February 9, 2015

Hati-Hati Di Jalan Yang Lurus, Bukan di Tikungan!



“Nan paralu bana hati-hati tu di jalan nan luruih, ndak di tikungan doh. Kalau di tikungan tu urang ka jaleh juo ado pangana supayo hati hati-hati. Kalau di jalan luruih lah babahayo sajo awak ndak tau, awak lah terlanjur ndak hati-hati doh”

Translatenya:

Ikatan Batin atau Ikatan Profesional?



Vella pernah bilang, “Buat aku, sepuluh lima itu cukup menjadi sahabat dan keluarga saja. Kalau sudah masuk dalam ikatan organisasi yang sama, takutnya kita malah gak sahabatan lagi karena masalah-masalah organisasi. Padahal masalah organisasi kan bukan masalah kita, tetapi malah menganggu kita. Masalah kita di organisasi bisa menganggu kita yang sedang sahabat

Yeah. I couldn’t agree more.  Sahabat cukup jadi sahabat saja, ikatan yang mengikat mereka cukuplah ikatan hati atau ikatan batin. Tidak perlu ada ikatan professional di dalamnya. Saya mengangguk dan memberikan jawaban dukungan. Sambil memikirkan langkah selanjutnya. Atau pilihan yang akan diambil setelahnya.

Super Late Post: Alasan Ngasal Nge-Blog

Alasan nge-blog:

1. Saya suka nulis
2. Saya tau orang-orang terdekat saya membacanya
3. Kalau sewaktu-waktu kamu cari saya di Google, paling tidak, ada kabar yang bisa kamu terima.

Alasan paling penting kenapa sampai postingan ini harus ada: baca alasan nomor tiga.


2 Maret 2013
(setidaknya pada file-nya tertera tanggal di atas)



NB: Ini postingan paling pendek dan paling ngasal banget. Dibikin dalam keadaan galau dan rindu kayaknya hahaha. Tapi gak tau kenapa tetep pengen ngeposting yang ini, sekalipun udah telat abis -..- Tentu saja alasan ngeblog saya tidak se-ngasal seperti yang di atas (9 Februari 2015)

Cerita Lama: Sepuluh Lima Pornoers Ngebolang 2012 (Pantai Air Manis)



Sebenarnya cerita ini udah lamaaaa banget. Pas hari-hari gue menjelang UN 2012. Tapi pas buka-buka file lama ketemu foto-foto lama juga, jadi kepengen nulisinnya buat postingan di blog. Pas lah momennya sekarang di saat anak SMA lagi panik-paniknya mau UN *ciee ciee yang bakal pisah sama gebetan… (́_̀)\('́'̀ )

Friday, February 6, 2015

Curhat: Ternyata Mereka Bosan Karena...


Gue bener-bener kangen kuliah. Gue kangen aktifitas. Gue kangen kesibukan. Aih gak nyangka gue bakal ngomong kayak gini di saat kemaren gue udah ngamuk-ngamuk minta dipulangkan saja ke Padang saking stressnya gue sama deadline yang ngejar-ngejar dari seluruh penjuru. Ngamuk-ngamuk ke diri sendiri sih emang Ϟ(`´)Ϟ

Tuesday, February 3, 2015

Yang Lebih Besar


Aulia       : "Kak, apa yang lebih besar daripada satu trilyun?"

Gue          : "Dua trilyun"
*pertanyaan delapan tahun yang lalu dari aulia, adek cowok paling bungsu pas umurnya 4 tahun.